Blog
Revitalisasi Keunggulan Sekolah Daar El Salam
- 29 Januari 2026
- Posted by: Dr. Ir. H. Rafiudin Nurdin, M.Pd
Latar Belakang
A. Keunggulan adalah Upaya Berkelanjutan
Sekolah unggulan bukan sekadar status administratif, label institusional, atau identitas yang cukup dipajang pada spanduk penerimaan murid baru. Dalam perspektif akademik, keunggulan adalah proses berkelanjutan yang menuntut perawatan, refleksi, dan pembaruan. Keunggulan yang tidak direvitalisasi berisiko mengalami stagnasi, bahkan regresi dalam istilah popular, unggul di masa lalu, bingung di masa kini.
Rapat Kerja Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Daar El Salam tahun ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi strategis, bukan ruang nostalgia. Forum ini bertujuan meninjau kembali capaian, tantangan, serta arah pengembangan sekolah agar keunggulan tidak berhenti sebagai identitas simbolik atau cerita mas lalu, tetapi terwujud nyata dalam praktik pembelajaran, budaya akademik, dan kinerja profesional guru saat ini dan akan datang.
B. Keunggulan Akademik sebagai Modal Institusional (Bukan Modal Cerita)
- Pelajaran Umum
Capaian pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan hasil tes skala nasional menunjukkan bahwa kapasitas akademik murid serta kompetensi pedagogik guru berada pada level yang kompetitif. Ini menegaskan satu hal penting: kita mampu. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan pada konsistensi. Sekolah unggulan tidak bergantung pada prestasi insidental atau satu-dua murid istimewa, melainkan pada sistem yang membuat prestasi menjadi tradisi, bukan kejutan tahunan.
- Pendidikan Agama
Prestasi dalam Kompetisi Pendidikan Agama Islam (PAI) serta inisiatif penyusunan buku ajar mandiri mencerminkan kemandirian akademik dan kedalaman penguasaan keilmuan. Guru berperan tidak hanya sebagai pelaksana kurikulum, tetapi sebagai Komposer bagian dari produsen pengetahuan. Kita telah mengalami kemandirian akademik, yaitu yang lahir dari dari keberanian menghargai hasil kerja dan prestasi internal.
- Bahasa Arab dan Inggris
Keunggulan pada bidang bahasa Arab dan Inggris ditunjukkan melalui budaya literasi dan pengembangan bahan ajar mandiri. Namun, bahasa sejatinya bukan hanya untuk lulus ujian, melainkan untuk hidup dalam komunikasi. Jika bahasa hanya aktif saat jam pelajaran, maka ia seperti aplikasi yang jarang dibuka: terinstal rapi, tetapi jarang digunakan.
- Teknologi
Penguasaan MS Office dan pengembangan buku ajar digital menunjukkan tingkat literasi teknologi yang memadai pada fase perkembangan teknologin di eranya. Namun, nilai strategis teknologi akan menurun apabila pemanfaatannya berhenti pada fungsi administratif semata. Ketika laptop guru lebih sering dipenuhi format laporan dibandingkan ruang untuk merancang ide pembelajaran, teknologi mengalami degradasi fungsi: dari alat berpikir dan inovasi pedagogik menjadi sekadar mesin copy–paste yang efisien, tetapi miskin makna. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi teknologi menuju pemanfaatan teknologi mutakhir termasuk kecerdasan buatan dan pendekatan deep learning, sebagai alat bantu analisis pembelajaran, personalisasi materi ajar, refleksi berbasis data, serta penguatan peran guru sebagai perancang pengalaman belajar, bukan sekadar pengisi dokumen.
- Olahraga
Prestasi olahraga menegaskan pentingnya keseimbangan antara pengembangan kognitif, fisik, dan ketahanan mental. Sekolah unggulan tidak hanya melahirkan murid yang cerdas berpikir, tetapi juga tangguh secara jasmani dan psikologis, sebagaimana tercermin dalam capaian prestasi hingga level internasional, seperti gelar juara karate internasional. Capaian ini menunjukkan bahwa keunggulan bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pembinaan yang terarah. Tantangan sekolah unggulan bukan sekadar mencetak juara, tetapi merawat dan melanjutkan prestasi agar tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Sebab kecerdasan tanpa ketahanan ibarat mesin berdaya tinggi tanpa sistem pendingin: terlihat hebat, tetapi cepat panas dan mudah mogok.
C. Tantangan Stagnasi dan Regresi: Ketika Zona Nyaman Terasa Terlalu Nyaman
- Faktor Internal
Stagnasi internal umumnya bukan lahir dari ketidakmampuan, melainkan dari melemahnya tradisi refleksi dan growth mindset. Inovasi terasa melelahkan, sementara rutinitas administratif terasa aman. Guru menjadi sangat terampil mengisi format, tetapi kurang diberi ruang untuk mengisi makna. Kita mungkin rajin dan rapi mencatat apa yang sudah dilakukan, tapi jarang bertanya: apakah ini masih relevan dan masih memiliki keunggulan kompetitif?
- Faktor Eksternal
Faktor eksternal mencakup persaingan dengan sekolah sekitar, pemahan dan ekspektasi orang tua terhadap pendidikan, serta dinamika perubahan kurikulum dan pendekatan pembelajaran. Tantangan ini menuntut respons adaptif. Sekolah unggulan yang lambat merespons perubahan berisiko tertinggal bukan karena kualitas rendah, tetapi karena daya dukung social kapital yang melemah.
D. Revitalisasi Keunggulan melalui Kolaborasi Akademik Focus Group Discussion (FGD)/CPD sebagai Rumah Produksi Kembali Keunggulan
FGD diposisikan sebagai forum akademik, strategis, dan kolaboratif bukan sekadar agenda rapat. Melalui FGD, pengalaman empiris guru dipertemukan dengan pendekatan ilmiah untuk merumuskan solusi berbasis data dan praktik nyata. Dengan modal pendidik berpengalaman dan jejaring akademisi yang dimiliki sekolah, FGD berpotensi menjadi rumah produksi, solusi, dan inovasi pendidikan, bukan sekadar pabrik notulen. Kekuatan FGD terletak pada keberanian menindaklanjuti hasil diskusi. Diskusi tanpa implementasi seperti dapur dengan resep lengkap, tetapi tidak pernah ada makanan yang benar-benar tersaji.
Penutup
Revitalisasi keunggulan Sekolah Daar El Salam merupakan tanggung jawab kolektif seluruh civitas sekolah Daar El Salam. Proses ini menuntut komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan, keterbukaan terhadap evaluasi, dan kesiapan keluar dari zona nyaman. Sekolah unggulan bukan yang paling sering menyebut kata unggul, tetapi yang paling konsisten membuktikannya dalam praktik. Jika handout ini membuat kita tersenyum sambil merasa agak tertusuk halus, jangan khawatir, ini bukan serangan, melainkan tanda bahwa refleksi sedang menemukan jalannya.